1. Ringkasan Eksekutif
Ekonomi Indonesia menunjukkan resiliensi yang solid dengan pertumbuhan PDB yang stabil di kisaran 5% sepanjang tahun 2024 hingga Triwulan III-2025. Pada periode tersebut, ekonomi nasional tumbuh sebesar 5,04% (yoy), didorong oleh konsumsi rumah tangga yang tumbuh 4,89%.
Sektor hilirisasi komoditas, khususnya nikel, menjadi katalis utama dengan peningkatan nilai ekspor dari kurang dari USD 5 miliar pada 2015 menjadi lebih dari USD 33 miliar pada 2023. Di sisi lain, ekonomi digital diproyeksikan mencapai GMV USD 100 miliar pada tahun 2025.
Indikator Utama 2025
2. Kinerja Makroekonomi dan Fiskal
Visualisasi Tren Pertumbuhan & Inflasi
Gambar 2.1: Perbandingan Pertumbuhan PDB dan Laju Inflasi Nasional (2024-2025). Sumber: Bank Indonesia & BPS.
Stabilitas harga tetap terjaga dengan inflasi inti yang rendah di level 2,19% pada September 2025. Meskipun demikian, inflasi pangan bergejolak (volatile food) tercatat meningkat menjadi 6,44% akibat dinamika cuaca yang mempengaruhi harga komoditas pokok seperti cabai dan beras [BI, 2025].
3. Sektor Strategis: Hilirisasi Komoditas
Lonjakan Nilai Ekspor Nikel (USD Miliar)
Investasi Smelter
Target 16 smelter terintegrasi pada 2024, mencakup nikel dan bauksit dengan nilai investasi hilirisasi mencapai USD 40,7 miliar.
Digitalisasi Tambang
Implementasi sistem SIMBARA yang diproyeksikan menambah royalti negara hingga Rp10 triliun.
"Indonesia kini menguasai sekitar 47% pangsa pasar ekspor nikel olahan dunia, bertransformasi dari pengekspor bijih mentah menjadi pemain kunci rantai pasok global EV battery."
— Laporan ResearchSquare, 2025
4. Perkembangan Ekonomi Digital
Sektor e-commerce berkontribusi USD 71 miliar terhadap total GMV ekonomi digital. Shopee memimpin pasar dengan pangsa 38%, diikuti Tokopedia 23%. Laporan e-Conomy SEA 2025 mencatat Indonesia sebagai pemimpin adopsi AI di Asia Tenggara.
5. Analisis Tantangan dan Perbandingan Global
| Metrik Perbandingan | Indonesia | Regional (MY/TH/SG) |
|---|---|---|
| Produktivitas Tenaga Kerja | USD 13 / jam | MY: USD 26 | SG: USD 74 |
| Rasio Pajak (% PDB) | 10,2% | Rata-rata: 16% - 27% |
| Hambatan Non-Tarif (NTM) | 30% (Ekuivalen Tarif) | Relatif lebih rendah |
Risiko Geopolitik
- Kebijakan tarif AS (ancaman hingga 32%)
- Suku bunga Federal Reserve yang memicu depresiasi Rupiah
- Gugatan Uni Eropa di WTO terkait larangan ekspor nikel
Peluang Strategis
- Aksesi OECD (ditargetkan selesai 2027)
- Potensi kenaikan PDB 0,92% di atas baseline via reformasi
- Pemanfaatan bonus demografi menuju Indonesia Emas 2045
6. Kesimpulan dan Prospek Masa Depan
Visi Indonesia Emas 2045 menargetkan Indonesia menjadi ekonomi terbesar ke-4 dunia dengan GNI per kapita mencapai USD 23.000 - USD 30.000. Untuk mencapai ini, diperlukan akselerasi pertumbuhan berkelanjutan sebesar 6-8%.
Reformasi Modal Manusia
Mengatasi kesenjangan kualitas pendidikan dan stunting untuk meningkatkan produktivitas tenaga kerja nasional.
Transisi Energi
Target emisi nol bersih 2060 dengan bauran energi terbarukan 50% pada 2045 untuk menarik investasi hijau.